
Hasan Jufri -
K.H.Bajuri Yusuf lahir di desa Lebak Sangkapura Bawean Gresik Jawa
Timur pada tanggal 20 Maret 1950, dan merupakan putra keenam dari
sebelas bersaudara dari pasangan K.H.Yusuf Zuhri dan ibu nyai
Hj.Muthiyah.
Sejak
kecil, selain memberikan pendidikan agama, kedua orang tua beliau
membiasakan K.H.Bajuri untuk mengembala kambing sepulang beliau dari
sekolah, pembiasaan mengembala kambing ini lebih dimaksudkan sebagai
latihan kesabaran, jika kelak menjadi seorang pemimpin.
Beliau
senantiasa mengingat nasehat ayahanda beliau bahwa beberapa rasul Allah
sebelum diangkat menjadi Rasul juga mengembala kambing, apabila sukses
mengembala kambing maka akan sukses pula memimpin manusia, sebab
memimpin ummat akan menghadapi berbagai rintangan dan ujian, apalagi
menghadapi berbagai watak manusia yang memang memiliki perbedaan
mendasar.
Sejarah Pendidikan KH. Bajuri Yusuf
Disamping
mendalami ilmu agama, beliau juga menempuh pendidikan formal dan non
formal, dimulai dari sekolah rakyat (SR/setingkat SD) dipagi hari dan
disore harinya belajar di MWB NU (Madrasah wajib belajar Nahdlatul
Ulama’). Mendapat tugas belajar di PPUPAN(Pendidikan Pengadilan Urusan
Pengadilan Agama Negeri) di Kediri, namun sebelum beliau merampungkan
tugas belajar di PPUPAN, meletus peristiwa G.30S/PKI pada tahun 1965.
Tahun
1966 beliau melanjutkan studinya di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta
dibawah asuhan K.H. Ali Ma’shum, dan setelah menyelesaikan pendidikan
formal pada jenjang Aliyah dipesantren tersebut, beliau melanjutkan
pendidikan formalnya kefakultas Adab IAIN Sunan Kalijogo, kuliah
tersebut beliau jalani dari pesantren atas anjuran K.H.Ali Ma’sum
pengasuh ponpes Krapyak yogyakarta. Dan sebelum beliau menyelesaikan
perkuliahannya kedoktoral II, pada tahun 1975 beliau berangkat ke Timur
Tengah tepatnya Makkah al Mukarromah untuk memenuhi panggilan belajar
(beasiswa) di Darul Hadits Makkah.
Pada
tahun 1976, beliau kembali mendapat panggilan belajar dari salah satu
Universitas ternama dikota Baghdad, yaitu perguruan tinggi Imam al
A’dham di fakultas Syariah. Dan ditahun 1979 universitas Imam al A’dham
menjadi satu bagian dengan Universitas Baghdad.
Setelah
merampungkan pendidikan beliau di Strata1 (S1) dengan menyandang gelar
LISS (Lesson of Islamic Study and Science) beliau kembali ke Mekkah al
Mukarromah untuk melanjutkan pendidikan beliau pada program pasca
sarjana (S2) di Universitas Islam Madinah.
Di
sela-sela beliau menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru di
Makkah, tiba-tiba keluarga meminta beliau untuk pulang kepulau Bawean
dengan alasan karena selama 6 tahun, sejak beliau berangkat ketimur
Tengah belum pernah pulang ke pulau Bawean.
Kepulangan
yang pada awalnya hanya direncanakan sebentar, ternyata harus dilakukan
untuk seterusnya, karena baru sekitar tiga mingguan beliau dipulau
Bawean, wafat ayahanda beliau K.H.yusuf Zuhri.Dan sebelum ayahanda
beliau wafat, K.H.Yusuf sempat ikut menata kitab-kitab K.H.Bajuri yang
beliau bawa dari Baghdad.Atas permintaan keluarga K.H.Bajuri yusuf
diharapkan dapat melanjutkan Majlis Ta’lim ayahanda beliau, maka demi
melanjutkan perjuangan ayahanda beliau dan menunaikan amanah dari
keluarga maka beliau mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan
beliau pada program pascasarjana (S2) di universitas Islam Madinah.
Pengalaman Organisasi KH. Bajuri Yusuf
Sejak
remaja K.H.Bajuri yusuf gemar mengikuti berbagai organisasi. Pada tahun
1970 beliau dilantik menjadi pengurus dipondok pesantren Krapyak
Yogyakarta sebagai koordinator keamanan. Dan pada tahun 1971 beliau
ditunjuk menjadi Ketua dewan pengurus di Pondok Pesantren Krapyak
Yogyakarta.
K.H.
Bajuri dimasa remaja juga aktif organisasi Gerakan Pemuda Anshor DIY
pada tahun 1970-1973, aktif pula berorganisasi di PMII dan IPNU. Pada
tahun 1978-1989 beliau menjadi wakil ketua PPI (Perhimpunan Pelajar
Islam) di Baghdad untuk wilayah Iraq. Pada tahun 1987-2002 beliau
menjabat sebagai Rais Syuriah Nahdlatul Ulama’ cabang Bawean selama dua
periode. Selain gemar berorganisasi beliau juga memiliki hobi di bidang
olahraga terutama olahraga sepak bola dan pencak silat, hobi pencak
silat ini mengantarkan beliau untuk menjadi pelatih pencak silat ketika
beliau kuliah di Baghdad.
Pada
tahun 1981 beliau menikahi putri dari pasangan K.H.Helmi dan ibu nyai
Hj.Masruhenna Marzuki, ibu nyai Hj.Faizah dari Desa Teluk Dalam
Sangkapura Bawean, dan dikaruniai lima anak, tiga putri dan dua putra.
Putri pertama Fauziya SPdI,MPdI alumni Pesantren Bahrul Ulum Jombang dan
Pondok Pesantren Al Fatah Lamongan dan telah merampungkan S2 nya di
UNSURI (Universitas Sunan Giri) Surabaya. Putri kedua, Hj. Ainun
Barokah, SpdI,MHI alumni Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah, Bangil
Pasuruan, alumni Daruzzahra dibawah asuhan al Habib Umar bin Hafidz
Yaman, dan telah merampungkan S2 nya di UNSURI (Universitas Sunan Giri)
Surabaya.
Putri
Ketiga Ulfatun Najihah, SpdI,MHI, alumni pondok pesantren Darullughah
Wadda’wah dan telah merampungkan S2 nya di UNSURI (Universitas Sunan
Giri) Surabaya. Putra keempat Muhammad Najahul Umam, SpdI, alumni Pondok
Pesantren Darullughah Wadda’wah dan sekarang masih menempuh pendidikan
di Rubath Tarim Hadromaut Yaman di bawah asuhan al Habib Salim as
Syatiri. Putra kelima Zah Faidh, alumni Pondok pesantren Darul Falah
Jepara, alumni Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan,
dan sekarang masih menempuh pendidikan di Jamiah (Universitas) Al Ahqof
Yaman.
Kiyai Bajuri Yusuf wafat pada tanggal 03 september 2014 M/08 Dzulqo’dah 1435 H.