Berdakwah Di Negeri Bandar Judi (Macau Part IV)
18-07-2014
Permasalahan BMI di Macau ini cukup komplek, sehingga tidak sedikit yang terjerumus dalam pergaulan dan gaya yang bebas, sebagian ada yang uangnya habis percuma di meja judi, ada yang berhubungan bebas dengan orang Nepal, dan bahkan hubungan sesama jenis alias lesbi, sungguh miris dan memprihatinkan.
Namun jika diperhatikan hal yang melatarbelakangi keinginan mereka untuk bekerja ke luar negeri khususnya ke Macau bukan semata-mata masalah ekonomi, sebagian dikarenakan brooken home, baik dengan pasangannya atau dengan orang tuanya, sebutlah si cici(nama samaran) dia curhat kepada isteri saya asal muasal dia bisa sampai di macau, awalnya karena dia kabur dari rumah, merasa kurang disayang, lalu pergi ke jakarta bekerja serabutan hingga akhirnya ditipu kawan diiming-imingi pekerjaan namun ternyata dia dibius dengan minuman dan diperkosa, hal itu membuat dia tambah malu untuk pulang dan bertemu orang tuanya, hingga puncaknya adalah ketika ibunya meninggal dunia, saudara-saudaranya menyalahkannya, lalu dia bertemu tetangganya dan ditawari bekerja ke kuwait selama 5 tahun, di Singapore dan akhirnya sekarang di Macau, namun di sini nasibnya cukup baik dia mendapatka majikan yang cukup baik dan gajinya lumayan tinggi, yang menjadi masalahnya sekarang dia kerap menangis karena keluarganya sudah tidak mau menerimanya lagi,dan dia merasa dosanya sudah sangat banyak, lalu isteri saya bilang bagaimana dengan ayahanda, dia jawab beliau masih sayang kepada saya, lalu isteri saya menasehati bangunlah kembali hubungan harmonis seperti dulu, sering telpon menanyakan kabar, doakan ayahanda dan saudara-saudara di Indonesia, gayanya diubah perlahan yang dulunya selenge’an cobalah lebih dewasa, kemudian dia jawab, iya bu ustazdah saya sudah niat mulai dari rambut saya, biasanya kalo ada masalah yang jadi sasaran adalah rambut, saya botakin aja, sekarang saya mau panjangin bu ustazdah lanjutnya, iya itu bisa jadi langkah yang pertama, kalau ada masalah mengadulah pada Allah, jangan putus asa dari rahmatNya, karena yang putus asa hanyalah Iblis dan pengikutnya, sampean masih muda umur baru 32 masa depan insyaAllah masih panjang, saya yakin sampean ga mau selamanya di sini bekerja, saya doakan semoga tahun depan menikah dan punya anak, isteriku menasehati dan menghiburnya, Amiiiiiin sambutnya dengan air mata berlinang.
27-07-2014
Kemaren hari sabtu kami bisa jalan-jalan juga ke Hongkong, ga afdhol rasanya kalau bisa sampai Macau tapi belum tau Hongkong, katanya hongkong lebih maju dari pada Macau konon mirip dengan Singapore.
Kami berangkat pagi hari sekitar jam 9.30, seperti yang diprediksi antrian panjang di imigrasi akan terjadi karena hari sabtu adalah hari libur, setelah sabar mengantri akhirnya kami keluar juga dari imigrasi tapi tiba-tiba isteri saya dicegat oleh beberapa petugas yang langsung memintanya membuka penutup wajah dan meletakkan suatu alat semacam alat sensor di sekitar matanya, karena kaget dan gugup akhirnya saya menyuruh isteri saya untuk tidak pikir panjang, karena penasaran kami bertanya kepada mbak ana yang mengantar kami apa tujuan hal itu karena pendatang-pendatang yang lainnya tidak diperlakukan seperti itu, lalu dia jawab, memang perlakuan itu hanya kepada wanita yang berkerudung, entahlah mungkin karena kecurigaan atau sentimen kepada umat Islam terkait issue terorisme dan atau tindak kejahatan yang lain. Hem...segitunya antisipasinya.
Setelah sampai di Hongkong kami langsung menuju ke kantor DD, sholat dhuhur disana kemudian dilanjutkan jalan-jalan ke KJRI dan ke Masjid Kunlun yang lumayan besar di tengah kota, yang kebanyakan pengunjungnya dari Pakistan maklum yang membangun masjid ini dulu adalah orang Pakistan, di samping masjid sudah menunggu teman saya delegasi DD juga yang sedang mengisi kajian bersama BMI Hongkong.
Setelah itu kami bersiap-siap menuju rumah Bu Neneng untuk buka puasa bersama, dia salah seorang WNI yang menikah dengan orang lokal dan tinggal di Hongkong, dan rumahnya lumayan jauh, kami berkumpul di kantor DD kemudian berangkat bersama kesana, kami bertujuh.
Rumahnya di lantai 34, buildingnya lumayan tinggi seratus lantai lebih, tapi tidak seperti di Macau semua bangunan di sini ada liftnya, jadi nyantai aja hehehe..
Singkat kata singkat cerita setelah ngobrol bersama di rumah bu Neneng pada jam 9 malam kami beranjak pulang, datang dan pergi dengan Bus, sekitar jam 10 kami sampai di kantor DD, ada rencana untuk menginap tapi karena tidak ada tempat memadai, saya dimana, isteri dimana tidurnya, akhirnya kami memutuskan pulang ke Macau karena alternatif lain kami harus menyewa penginapan dengan biaya sendiri, dihitung-hitung biaya perjalanan berdua aja udah sejutaan apalagi penginapan di sini biaya sewa memang sangat mahal , ahsan berkorban capek dah, itung-itung istirahatnya bisa di qadha besok siang.
Hari minggu seperti biasa lepas dhuhur kajian bersama BMI di Masjid sampai berbuka puasa, kali ini adalah minggu terakhir, dan besoknya adalah lebaran jika merujuk kepada keputusan menteri agama di Indonesia, maka materi yang saya sampaikan banyak kepada muhasabah dan kajian zakat fitrah, sementara isteri saya lebih kepada mengajak jama’ah menutup Ramadhan dengan amalan-amalan yang sholehah karena al umuur bi khawatimiha serta nasehat-nasehat yang lain dan ditutup dengan doa khatmil Qur’an.
Panitia Ramadhan mendatangi isteri saya, dan mengucapkan ribuan terimakasih dan permohonan maaf, terlihat mereka berkaca-kaca kamipun terharu.
Banyak hikmah dan pelajaran yang kami dapatkan selama di sini, kegigihan dan semangat dalam menjalankan syariat di tengah-tengah kesibukan bekerja bahkan sebagian dipersulit sekedar melaksanakan shalat lima waktu, dan sebagian ada yang belajar mengambil paket C dan sebagainya ada juga yang mendalami ilmu pengobatan bekam tentunya secara profesional, mereka mendatangkan guru, dan bisa mendapatkan sertifikat kelulusan. Tamat
Permasalahan BMI di Macau ini cukup komplek, sehingga tidak sedikit yang terjerumus dalam pergaulan dan gaya yang bebas, sebagian ada yang uangnya habis percuma di meja judi, ada yang berhubungan bebas dengan orang Nepal, dan bahkan hubungan sesama jenis alias lesbi, sungguh miris dan memprihatinkan.
Namun jika diperhatikan hal yang melatarbelakangi keinginan mereka untuk bekerja ke luar negeri khususnya ke Macau bukan semata-mata masalah ekonomi, sebagian dikarenakan brooken home, baik dengan pasangannya atau dengan orang tuanya, sebutlah si cici(nama samaran) dia curhat kepada isteri saya asal muasal dia bisa sampai di macau, awalnya karena dia kabur dari rumah, merasa kurang disayang, lalu pergi ke jakarta bekerja serabutan hingga akhirnya ditipu kawan diiming-imingi pekerjaan namun ternyata dia dibius dengan minuman dan diperkosa, hal itu membuat dia tambah malu untuk pulang dan bertemu orang tuanya, hingga puncaknya adalah ketika ibunya meninggal dunia, saudara-saudaranya menyalahkannya, lalu dia bertemu tetangganya dan ditawari bekerja ke kuwait selama 5 tahun, di Singapore dan akhirnya sekarang di Macau, namun di sini nasibnya cukup baik dia mendapatka majikan yang cukup baik dan gajinya lumayan tinggi, yang menjadi masalahnya sekarang dia kerap menangis karena keluarganya sudah tidak mau menerimanya lagi,dan dia merasa dosanya sudah sangat banyak, lalu isteri saya bilang bagaimana dengan ayahanda, dia jawab beliau masih sayang kepada saya, lalu isteri saya menasehati bangunlah kembali hubungan harmonis seperti dulu, sering telpon menanyakan kabar, doakan ayahanda dan saudara-saudara di Indonesia, gayanya diubah perlahan yang dulunya selenge’an cobalah lebih dewasa, kemudian dia jawab, iya bu ustazdah saya sudah niat mulai dari rambut saya, biasanya kalo ada masalah yang jadi sasaran adalah rambut, saya botakin aja, sekarang saya mau panjangin bu ustazdah lanjutnya, iya itu bisa jadi langkah yang pertama, kalau ada masalah mengadulah pada Allah, jangan putus asa dari rahmatNya, karena yang putus asa hanyalah Iblis dan pengikutnya, sampean masih muda umur baru 32 masa depan insyaAllah masih panjang, saya yakin sampean ga mau selamanya di sini bekerja, saya doakan semoga tahun depan menikah dan punya anak, isteriku menasehati dan menghiburnya, Amiiiiiin sambutnya dengan air mata berlinang.
27-07-2014
Kemaren hari sabtu kami bisa jalan-jalan juga ke Hongkong, ga afdhol rasanya kalau bisa sampai Macau tapi belum tau Hongkong, katanya hongkong lebih maju dari pada Macau konon mirip dengan Singapore.
Kami berangkat pagi hari sekitar jam 9.30, seperti yang diprediksi antrian panjang di imigrasi akan terjadi karena hari sabtu adalah hari libur, setelah sabar mengantri akhirnya kami keluar juga dari imigrasi tapi tiba-tiba isteri saya dicegat oleh beberapa petugas yang langsung memintanya membuka penutup wajah dan meletakkan suatu alat semacam alat sensor di sekitar matanya, karena kaget dan gugup akhirnya saya menyuruh isteri saya untuk tidak pikir panjang, karena penasaran kami bertanya kepada mbak ana yang mengantar kami apa tujuan hal itu karena pendatang-pendatang yang lainnya tidak diperlakukan seperti itu, lalu dia jawab, memang perlakuan itu hanya kepada wanita yang berkerudung, entahlah mungkin karena kecurigaan atau sentimen kepada umat Islam terkait issue terorisme dan atau tindak kejahatan yang lain. Hem...segitunya antisipasinya.
Setelah sampai di Hongkong kami langsung menuju ke kantor DD, sholat dhuhur disana kemudian dilanjutkan jalan-jalan ke KJRI dan ke Masjid Kunlun yang lumayan besar di tengah kota, yang kebanyakan pengunjungnya dari Pakistan maklum yang membangun masjid ini dulu adalah orang Pakistan, di samping masjid sudah menunggu teman saya delegasi DD juga yang sedang mengisi kajian bersama BMI Hongkong.
Setelah itu kami bersiap-siap menuju rumah Bu Neneng untuk buka puasa bersama, dia salah seorang WNI yang menikah dengan orang lokal dan tinggal di Hongkong, dan rumahnya lumayan jauh, kami berkumpul di kantor DD kemudian berangkat bersama kesana, kami bertujuh.
Rumahnya di lantai 34, buildingnya lumayan tinggi seratus lantai lebih, tapi tidak seperti di Macau semua bangunan di sini ada liftnya, jadi nyantai aja hehehe..
Singkat kata singkat cerita setelah ngobrol bersama di rumah bu Neneng pada jam 9 malam kami beranjak pulang, datang dan pergi dengan Bus, sekitar jam 10 kami sampai di kantor DD, ada rencana untuk menginap tapi karena tidak ada tempat memadai, saya dimana, isteri dimana tidurnya, akhirnya kami memutuskan pulang ke Macau karena alternatif lain kami harus menyewa penginapan dengan biaya sendiri, dihitung-hitung biaya perjalanan berdua aja udah sejutaan apalagi penginapan di sini biaya sewa memang sangat mahal , ahsan berkorban capek dah, itung-itung istirahatnya bisa di qadha besok siang.
Hari minggu seperti biasa lepas dhuhur kajian bersama BMI di Masjid sampai berbuka puasa, kali ini adalah minggu terakhir, dan besoknya adalah lebaran jika merujuk kepada keputusan menteri agama di Indonesia, maka materi yang saya sampaikan banyak kepada muhasabah dan kajian zakat fitrah, sementara isteri saya lebih kepada mengajak jama’ah menutup Ramadhan dengan amalan-amalan yang sholehah karena al umuur bi khawatimiha serta nasehat-nasehat yang lain dan ditutup dengan doa khatmil Qur’an.
Panitia Ramadhan mendatangi isteri saya, dan mengucapkan ribuan terimakasih dan permohonan maaf, terlihat mereka berkaca-kaca kamipun terharu.
Banyak hikmah dan pelajaran yang kami dapatkan selama di sini, kegigihan dan semangat dalam menjalankan syariat di tengah-tengah kesibukan bekerja bahkan sebagian dipersulit sekedar melaksanakan shalat lima waktu, dan sebagian ada yang belajar mengambil paket C dan sebagainya ada juga yang mendalami ilmu pengobatan bekam tentunya secara profesional, mereka mendatangkan guru, dan bisa mendapatkan sertifikat kelulusan. Tamat