Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Pelatihan Pengelolaan Kelas Aktif Berbasis Karakter Bersama YDSF

Hasan Jufri - Pada kesempatan kali ini Yayasan Dana Sosial Al Falah atau yang lebih keren disingkat menjadi YDSF hadir dalam rangka memberi pelatihan khusus kepada seluruh jajaran guru di YPP Hasan Jufri.

Hal ini dilakukan dalam rangka menngkatkan mutu para pengajar sehingga peserta didikpun menjadi generasi yang penuh dengan akhlak dan moral yang meyakinkan.

Jum’at (16/10/15) beberapa tutor mengisi acara yang berlangsung dari jam 08.30 WIB s/d 17.00 WIB. Acara ini insyaallah akan dilangsungkan selama 3 hari kedepan, sehubungan dengan banyaknya staf pengajar yang akan mengikutinya. 

Tampak pada hari jum’at para guru Madrasah Aliyah mengikuti jalannya acara. Tidak hanya pelatihan, pihak YDSF menyediakan bantuan bagi para kaum Yatim, Dhuafa dan juga Pendidikan. Kali ini tak tanggung-tanggung pihak YDSF mengeluarkan dana sebesar Rp. 106.300.000,- untuk mereka yang berhak. (af)

Persiapan Muktamar NU 33 Jombang PCNU Bawean Gelar Bahtsul Masail Di PP. Hasan Jufri



Hasan Jufri - Puluhan perwakilan 5 MWCNU Bawean hadir di mushala PP. Hasan Jufri (  Jum’at malam Sabtu , 27/3 ). Mereka membahas beberapa masalah waqi’iyah (aktual) yang dikirim oleh PWNU Jawa Timur. Tanggal 4-5 April 2015,  PWNU Jawa Timur akan menggelar bahtsul masail di PP. Denanyar Jombang. Bahtsul masail ini adalah bagian dari kegiatan untuk menyongsong muktamar NU 33 di Jombang tanggal 1-5 Agustus 2015.

Tampak rais syuriah dan ketua tanfidziyah PCNU Bawean mengikuti kegiatan bahtsul masail ini sampai selesai. Kegiatan yang dimulai bakda shalat isyak ini dipimpin oleh ustadz Masyhud ( ketua LBM PCNU Bawean). Diantara masail tersebut adalah : hukum BPJS, kambing qurban, terjemah al-quran, takmir masjid dan nadzir, zakat dan haji.

Bahtsul masail adalah satu dari beberapa pranata di NU yang cukup efektif memberi solusi hukum atas beberapa persoalan yang terjadi. Setiap kegiatan NU mulai tingkat ranting sampai pusat, bahtsul masail tidak pernah ditinggalkan. Soal yang dibahas bukan hanya waqi’iyah ( aktual) tapi juga maudlu’iyah ( tematik) dan qanuniyah ( perundang-undangan). Soal maudlu’iyah dan qanuniyah mulai diperkenalkan pada muktamar Cipasung 1994.

PCNU Bawean aktif mengikuti bahtsul masail yang diadakan oleh PWNU dan PBNU. Biasanya soal-soal tersebut dibahas bersama sebagai bekal jawaban. Hari Rabu malam Kamis yang akan datang ( 1/ 4) bahtsul masail akan dilanjutkan di MWC NU Tambak. (aa)

Yuk, Parkir Yang Tertib !





 Hasan Jufri- Pendidikan karakter meniscayakan  pembiasaan. Karena inti dari akhlak adalah pembiasaan. Orang dinilai berakhlak bila ia terbiasa berbuat baik kapan pun dan dimana pun. Sebaliknya orang yang tidak berakhlak cenderung mengerjakan hal baik di tempat dan waktu tertentu.

Sebagai penyelenggara pendidikan maka YPP.Hasan Jufri sangat serius mendidik para santri (siswa) untuk membiasakan diri mengerjakan hal positif. Diantaranya : membiasakan mengerjakan shalat fardlu berjama’ah, shalat sunah, lingkungan bersih, berempati dengan orang yang lain yang kekurangan dan belajar tertib. Tertib dengan cara antri masuk dan keluar kelas dan tertib dalam memarkir sepeda.

Dalam hal parkir sepeda YPP.Hasan Jufri menempatkan 7 petugas dengan 4 lokasi parkir. Mereka bertugas membantu siswa untuk menata sepeda saat datang dan pulang dari sekolah. Penataan parkir yang rapi akan memberikan kesan bahwa penghuninya juga beretika.

Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dijumpai perilaku tidak tertib. Contoh : saat kita akan turun dari kapal (Expres Bahari / Natuna)  akan kita saksikan penumpang berebut untuk turun. Mereka tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Alangkah bagusnya bila mereka memberi kesempatan kepada penumpang yang depan untuk turun lebih awal. Bukan hanya itu, saat pesawat baru saja landing dan sedang berjalan menuju tempat parkir maka penumpang berebut keluar. Saling senggol dan sikut untuk mengambil tas (di atas kepala).

Mengubah perilaku harus dimulai sejak dini. Setahap demi setahap kita ajak para siswa untuk belajar antri dalam banyak hal. Endingnya siswa kita akan terbiasa menjalani hidupnya dengan teratur. (aa)

BAN PT Visitasi Ke STAIHA Bawean

Tahun 2013 ini STAIHA Bawean mendapat kehormatan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Satu satunya kampus di Bawean ini dinyatakan layak untuk di akreditasi. Tanggal 9 September 2013 dua assessor BAN PT mengunjungi kampus STAIHA Bawean dalam rangka akreditasi program study Manajemen Pendidikan islam. Mereka adalah Prof. Dr. Rusdinal (Universitas Negeri Padang) dan Dr. Sururin, MA (UIN Jakarta).

Prof. Dr. Rusdinal (Assesor) mengapresiasi kesungguhan STAIHA Bawean dalam mengelola perguruan Tinggi. “ Kampus ini adalah kebanggaan Bawean. Tak di nyana, di kepulauan yang jauh ini ternyata masyarakatnya sudah go internasional. STAIHA harus meresponnya” ujarnya.

Seminggu kemudian (16/9) giliran Program Study Hukum Ekonomi Syariah yang diakreditasi. Hadir Husnul Fatarib, Lc. P.hd, (STAIN Metro Lampung) dan Dr. Euis Amalia (UIN Jakarta). Dalam paparannya Dr. Euis Amalia memotivasi STAIHA untuk mengembangkan kawasan ekonomi syariah di Bawean. “ Orang Bawean ini religiusitasnya tinggi. Ini modal penting untuk mengembangkan kawasan ekonomi syariah” tuturnya.

Di tempat yang sama ketua STAIHA Bawean Baharudin, SH.MM menyatakan bahwa kehadiran dua tiem assessor telah memberikan motivasi yang luar biasa. “Pasca akreditasi ini STAIHA Bawean sedang mengajukan panambahan prodi baru yaitu Pendidikan Agama islam, PGMI, PGRA dan Ekonomi Islam. Empat prodi ini memiliki prospek yang bagus. Insya Allah tahun akademik 2014-2015 kita sudah memiliki enam prodi dan dua jurusan. Jadi nanti namanya bukan lagi STAIHA tetapi Institute Agama Islam Bawean” tegasnya.(kuncoro 11)

Perpustakaan, Oh Perpustakaan

MINAT baca selama ini menjadi salah satu masalah besar bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, saat ini minat baca masyarakat Indonesia termasuk yang terendah di Asia.


Indonesia hanya unggul di atas Kamboja dan Laos. Padahal semakin rendah kebiasaan membaca, penyakit kebodohan dan kemiskinan akan berpotensi mengancam kemajuan dan eksistensi bangsa ini. Parahnya lagi, rendahnya minat baca bukan hanya terjadi pada masyarakat umum, di SD, SMP, SMA, bahkan di perguruan tinggi pun minat baca mahasiswa sangat rendah. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kondisi di Jepang.

Saat ini tentu kita sudah melihat bagaimana kemajuan perkembangan iptek di Jepang. Semua itu disebabkan karena pemerintah Jepang sangat memprioritaskan kebutuhan bahan bacaan masyarakatnya, terutama anak-anak sekolah dan mahasiswa, sehingga tak mengherankan jika perpustakaan, terutama di kampus-kampus Jepang, selalu ramai dikunjungi mahasiswa.

Berbeda dari kondisi perpustakaan kampus di Indonesia, perpustakaan kampus tak lebih hanya sebagai tempat penyimpanan dan pajangan berbagai koleksi buku dan bahan referensi lainnya. Lebih ironis lagi, perpustakaan kampus sering dijadikan sebagai tempat untuk pacaran, bukan tempat membaca dan berdiskusi.

Sebagai seorang mahasiswa dan calon ilmuwan, perpustakaan seharusnya menjadi tempat yang paling dicari, terutama dalam mencari referensi untuk membuat atau menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan.

Menumbuhkan Minat Baca

Faktor yang menjadi peyebab sepinya perpustakaan, selain minat baca mahasiswa yang menurun, juga karena perpustakaan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman dengan tidak memenuhi kebutuhan mahasiswa. Untuk memenuhi kebutuhan tugas-tugas kuliah, mahasiswa seringkali lebih memilih cara instan, yaitu mencari di internet.

Mengapa minat baca mahasiswa rendah? Menurut (Arixs: 2006) ada enam faktor penyebab: (1) Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat mahasiswa harus membaca buku, (2) banyaknya tempat hiburan, permainan, dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian mereka dari menbaca buku, (3) budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita, sedangkan budaya tutur masih dominan daripada budaya membaca, (4) sarana untuk memperoleh bacaan seperti perpustakaan atau taman bacaan masih merupakan barang langka, (5) tidak meratanya penyebaran bahan bacaan di berbagai lapisan masyarakat (6) serta dorongan membaca tidak ditumbuhkan sejak jenjang pendidikan praperguruan tinggi.

Perpustakaan sesungguhnya memainkan peranan penting bagi terciptanya budaya membaca bagi mahasiswa. Perpustakaan merupakan jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan, dapat memberikan kontribusi penting bagi terbukanya akses informasi, serta menyediakan data yang akurat bagi proses pengambilan sumber-sumber referensi bagi pengembangkan ilmu pengetahuan. Dan semua itu hanya bisa di dapatkan dengan cara membaca.

Oleh sebab itulah, perpustakaan kampus hendaknya didesain sedemikian rupa supaya mahasiswa dan civitas academica lebih betah berada di sana. Perpustakaan harus mampu memenuhi dahaga para mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan dengan empat cara.

Pertama, menambah sarana dan prasarana perpustakaan, seperti adanya fasilitas dan jaringan internet atau wi-fi, memperbanyak ruang diskusi, dan memperbaiki ruang bacaan. Jika hal ini dapat diwujudkan, tentu akan menarik perhatian mahasiswa berkunjung ke perpustakaan.

Kedua, memberikan pelayanan yang baik, ramah, dan bersahabat. Hal ini sangat penting mengingat para pengunjung adalah mahasiswa yang berpendidikan. Jadi jika ada pelayanan dari petugas yang kurang baik dan kurang memuaskan tentu mereka akan protes dan kurang nyaman dalam menggunakan fasilitas perpustakaan.

Ketiga, tersedianya koleksi buku yang memadai. Koleksi bahan bacaan (buku atau literarur) merupakan komponen yang paling penting bagi perpustakaan. Koleksi yang harus dimiliki oleh perpustakaan minimal adalah buku wajib bagi setiap mata kuliah yang diajarkan dan jumlahnya harus memadai. Menurut SK Mendikbud 0686/U/1991, setiap mata kuliah dasar dan mata kuliah keahlian harus disediakan dua judul buku wajib dengan jumlah eksemplar sekurang-kurangnya 10 % dari jumlah mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut.

Keempat, menciptakan iklim membaca di kampus. Lingkungan akademik yang kondusif akan mendorong mahasiswa untuk rajin ke perpustakaan. Hal itu bisa dilakukan, misalnya dengan cara dosen memberikan tugas membaca bagi mahasiswanya.

Jika perpustakaan dapat memberikan layanan yang baik dan menyediakan berbagai kebutuhan literatur yang dibutuhkan, maka mahasiswa akan banyak mendatangi perpustakaan. Lingkungan yang demikian memang tidak bisa diciptakan sendirian oleh perpustakaan, melainkan harus bekerja sama dengan seluruh warga kampus. (24)

Rujukan:  klik ne!